Beberapa orang berpikir bahwa istilah kelompok merujuk pada konseling atau sebuah terapi kelompok untuk individu yang bermasalah. Ada banyak perbedaan dari jenis-jenis kelompok dengan babagai tujuan, seorang pemimpin dapat membentuk kelompok untuk membahas dan memutuskan sesuatu, mengeksplorasi masalah pribadi, menyelesaikan tugas tertentu atau tujuan tertentu. The Association for Specialists in Group Work (ASGW) menetapkan standar untuk empat jenis kelompok yaitu: kelompok bimbingan/ psychoeducational; konseling/ pemecahan masalah antar pribadi; psikoterapi/ rekonstruksi kepribadian; dan tugas/ kelompok pekerja Gladding (Jacobs, et al, 2012: 5). Lebih lanjut dikatakan jenis kelompok meliputi: bimbingan kelompok; konseling kelompok; kelompok psikoterapi dan beberapa dalam kategori tradisional.
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Konseling Kelompok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konseling Kelompok. Tampilkan semua postingan
Pertemuan XII BK Kelompok Pendidikan
Beberapa orang berpikir bahwa istilah kelompok merujuk pada konseling atau sebuah terapi kelompok untuk individu yang bermasalah. Ada banyak perbedaan dari jenis-jenis kelompok dengan babagai tujuan, seorang pemimpin dapat membentuk kelompok untuk membahas dan memutuskan sesuatu, mengeksplorasi masalah pribadi, menyelesaikan tugas tertentu atau tujuan tertentu. The Association for Specialists in Group Work (ASGW) menetapkan standar untuk empat jenis kelompok yaitu: kelompok bimbingan/ psychoeducational; konseling/ pemecahan masalah antar pribadi; psikoterapi/ rekonstruksi kepribadian; dan tugas/ kelompok pekerja Gladding (Jacobs, et al, 2012: 5). Lebih lanjut dikatakan jenis kelompok meliputi: bimbingan kelompok; konseling kelompok; kelompok psikoterapi dan beberapa dalam kategori tradisional.
UAS PROSEDUR KELOMPOK DALAM KONSELING
SIFAT
Pembinaan dan pengembangan secara mandiri
MEKANISME
Saat kelompok pertama tampil kelompok lainnya melakukan hitungan (1 – 7) angka tersebut menunjukkan nomor aspek yang diamati oleh observer meliputi:
Bentuk-bentuk latihan kelompok konseling
Bimbingan dan konseling merupakan sebuah profesi yang sifatnya membantu (helping profession) untuk menciptakan bantuan tersebut standar prosedur operasional (standard operating system) mengambil tempat yang teramat penting dalam mewujudkan kegiatan tersebut maka, melalui mata kuliah prosedur kelompok dalam konseling. Mahasiswa diharapkan memperoleh bekal ilmu pengetahuan yang mumpuni, cakap dan terampil serta mempunyai integritas yang handal dalam disiplin ilmu bimbingan dan konseling, dengan penerapannya melalui memimpin kelompok konseling.
Prosedur perkuliahan konseling kelompok
Prosedur perkuliahan konseling kelompok
Program studi bimbingan dan konseling universitas jambi Tahun Ajaran 2016/ 2017
Program studi bimbingan dan konseling universitas jambi Tahun Ajaran 2016/ 2017
Mekanisme Perkuliahan
- Setiap kelompok berhak membuat bahan persentase berbentuk powerpoint (min 5 slide max 15 slide yang diakhiri dengan foto anggota kelompok, diurut dari kiri-kanan).
- Menyerahkan laporan buku/makalah kelompok kepada dosen pengampu yang disesuaikan dengan kaidah penulisan ilmiah dengan format sebagai berikut:
- Bab 1 Pendahuluan
- Bab 2 Kerangka terori (teori yang terkait dengan pembahasan masing-masing)
- Bab 3 Pembahasan dan simpulan
- Daftar pustaka
Mahasiswa mempunyai kesempatan yang sama untuk mengisi ruang AK (aktivitas di kelas); PD (penyajian dan diskusi tatap muka); LB/M (laporan buku/ bab, lapangan, makalah); KDB (keaktifan di blog); UTS (ujian tengah semester); UAS (Ujian akhir semester dalam perkuliahan Konseling kelompok pada Program studi Bimbingan dan Konseling Universitas jambi Tahun Ajaran 2016/2017.
Satuan Acara Perkuliahan
Nilai UTS
Pertemuan XIV (Prosedur Standar Operasional pada Konseling Kelompok)
Beragam kegiatan hendaknya disandarkan pada perencanaan yang terintegrasi antara yang satu dengan yang lainya. perencanaan yang terarah dan terukur merupakan titiktolak dan pra-syarat keberhasilan suatu kegiatan tidak terkecuali layanan konseling kelompok, oleh karenanya prosedur standar operasional (POS) layanan konseling pada setting konseling kelompok penting diketahui dan di operasikan, sebagaimana Juntika (2012: 22) menyatakan bahwa prosedur konseling kelompok sama dengan bimbingan kelompok yaitu terdiri dari (1) tahap pembentukan; (2) tahap peralihan; (3) tahap kegiatan; dan (4) tahap pengakhiran. Tahap pembentukan bertema pengenalan, pelibatan dan pemasukan diri, tahap peralihan bertema pembangunan jembatan antara tahap pertama dan tahap ketiga. Tahap kegiatan bertema kegiatan pencapaian tujuan dan tahap pengakhiran bertema penilaian dan tindak lanjut.
Pertemuan XIII (persiapan dalam melakukan konseling kelompok)
Sebagaimana kegiatan-kegiatan lain pada umumnya yang memiliki perencanaan sebelum pelaksanaan dimana renana tersebut dijadikan parameter dan atau tolok ukur tujuan yang ingin dicapai hal tersebut juga berlaku untuk konseling kelompok sebagaimana Gladding (Jacobs et al 2012: 69) mengatakan banyak kelompok yang tidak berhasil dikarenakan terlalu sedikit penekanan pada perencanaan kelompok, perencanaan pra-kelompok untuk kberhasilan kelompok itu sendiri.
Pertemuan XII (Konseling kelompok dengan pendekatan Realitas)
Pendahuluan
Terapi realitas berlandaskan premis bahwa ada suatu kebutuhan psikologis tunggal yang hadir sepanjang hidup, yaitu kebutuhan akan identitas mencakup suatu kebutuhan untuk merasakan keunikan, keterpisahan, ketersendirian. Kebutuhan akan identitas menyebabkan dinamika-dinamika tingkah laku, dipandang sebagai universal pada semua kebudayaan. Menurut terapi realitas, akan sangat berguna apabila menganggap identitas dalam pengertian "identitas dalam keberhasilan" lawan "identitas kegagalan". Dalam pembentukan identitas, masing-masing dari kita mengembangkan keterlibatan-keterlibatan dengan orang lain dan dengan bayangan diri, yang dengannya kita merasa relatif berhasil atau tidak berhasil. Orang lain memainkan peranan yang berarti dalam membantu menjelaskan dan memahami identitas kita sendiri. Cinta dan penerimaan berkaitan langsung dengan pembentukan identitas.
Pertemuan XI (Konseling kelompok dengan pendekatan Rasional Emotif)
Pendahuluan
Konseling kelompok dengan pendekatan rasional emotif merupakan aliran psikoterapi yang dikembangkan pada pertengahan tahun 1950-an, pendekatan ini dikenal dengan rational emotive therapy (RET) oleh pelopornya Albert Ellis, Ia adalah seorang ahli yang sangat rajin dalam bekerja memberikan pelayanan
psikoterapi, baik secara individualmaupun dalam situasi kelompok, dan juga dalam membericeramah di berbagai kesempatan disepanjang tahun. RET didasariasumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi rasional (berfikirlangsung) dan juga irasional (berfikir berliku-liku). Keyakinan irasional itu yang menyebabkan gangguan emosional.
Pertemuan X (Konseling kelompok dengan pendekatan gestal)
Pendahuluan
Terapi Gestalt yang dikembangkan oleh Frederick Perls adalah bentuk terapi eksistensial yang berpijak pada premis bahwa individu-individu harus menemukan
jalan hidupnya sendiri dan menerima tanggung jawab pribadi jika mereka berharap mencapai kematangan. Karena bekerja terutama di atas prinsip kesadaran,
terapi Gestalt berfokus pada apa dan bagaimananya tingkah laku dan pengalaman di sini-dan-sekarang dengan memadukan (mengintegrasikan) bagian-bagian
kepribadian yang terpecahkan dan tidak diketahui. (Corey, 2013: 117)
Pertemuan IX Konseling kelompok dengan pendekatan terpusat pada konseli (group-centered approach)
Pendahulaun
Carl R. Rogers mengembangkan terapi terpusat pada konseli (client-centered) sebagai reaksi terhadap apa yang disebutnya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Pada hakikatnya, pendekatan client-centered adalah cabang khusus dari terapi humanistik yang menggaris bawahi tindakan mengalami konseli berikut dunia subjektif dan fenomenalnya. Terapis berfungsi terutama sebagai penunjang pertumbuhan pribadi konselinya dengan jalan membantu konseli yaitu dalam menemukan kesanggupan-kesanggupan untuk memecahkan masalah-masalah. Pendekatan client-centered menaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan konseli untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri. Hubungan terapeutik antara terapis dan konseli merupakan katalisator bagi perubahan; konseli menggunakan hubungan yang unik sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran dan untuk menemukan sumber-sumber terpendam yang bisa digunakan secara konstruktif dalam pengubahan hidupnya.
Pertemuan VII (Konseling kelompok dengan pendekatan Adlerian)
Pendahuluan
Prinsip utama teori Adlerian adalah kepeduliannya pada sosial interest atau minat sosial. Minat sosial didefinisikan sebagai " not only a interest in others but an interest in the interest in the interest of others" Ansbacher; Gladding. (Supriatna, N, 2009: 37). Artinya, bahwa minat sosial bukan hanya satu minat dalam orang lain, tetapi suatu minat di dalam minat pada orang lain. Esensi normalitas dalam pandangan Adlerian adalah memiliki perasaan yang mempedulikan orang lain. Perasaan dapat dikembangkan dalam konteks kelompok.
Pertemuan VI (Konseling kelompok dengan pendekatan psikoanalitik)
Pedahuluan
Sebagaimana diketahuai bahwa teori konseling psikoanalisis merupakan hasil pemikiran Freud. Namun demikian, menurut Natawidjaja (2009: 179), Freud sendiri tidak pernah mengaplikasikan teorinya ini dalam layanan konseling kelompok. Beberapa dokter di Amerika mulai menggunakan teori psikoanalisis sebagai dasar psikoterapi kelompok sebelum Perang Dunia I. Di antara orang yang paling terkenal adalah E. W. Lazell, yang mengadakan psikoterapi kelompok terhadap penderita "schizophrenics" (suka mengasingkan diri). Orang pertama yang berusaha menerapkan prinsip-prinsip psikoanalisis beserta teknik-tekniknya dalam kegiatan kelompok menurut Natawidjaja (2009: 179), adalah Alexander Wolf, yaitu seorang psikiatris dan psikoanalis. Wolf mengembangkan teknik-teknik dasar psikoanalisis dalam kelompok, seperti transference, asosiasi bebas, analisis mimpi, dan analisis deterrninan historis dari perilaku sekarang. Ia menekankan penciptaan kembali keluarga yang asli, sehingga anggota-anggota kelompok dapat menangani masalah-masalah yang tidak sempat diselesaikan sebelumnya.Pertemuan V (Isu-isu kontemporer kelompok dalam konseling)
Materi tentang isu-isu dalam konseling kelompok merupakan hal-hal yang menjadi perbincangan hangat dalam konteks praktik bimbingan dan konseling kelompok. Ed E. Jacobs, Riley L. Harvill, dan Robert L. Mctsson. (2012) menyebutkan bahwa saat ini beberapa isu pokok yang masuk dalam perbincangan hangat dalam
dinamisasi profesi konseling, khususnya dalam layanan konseling kelompok yaitu: (1) isu-isu co-leading, (2) isu-isu evaluasi kelompok, (3) isu-isu masalah
etik, (4) isu-isu penelitian, (5) isu-isu pelatihan, dan (6) isu-isu trend masa depan.
Isu-isu Co-leading/ Ko-konselor
Sebenarnya secara umum, konselor dalam layanan konseling kelompok disiapkan sebagai pemimpin tunggal. Namun demikian memimpin kelompok dengan satu atau lebih kolega bisa sangat menguntungkan, terutama untuk pemula, setidaknya inilah yang dikatakan oleh Jacob, at al (2012: 450), sehingga ia menganggap bahwa
perlu dikenalkan bagaimana posisi co-leader dalam layanan konseling kelompok. Co-leader dapat memberikan ide-ide tambahan untuk perencanaan dan dapat memberikan dukungan, terutama ketika bekerja dengan kelompok terapi intensif atau dengan kelompok yang sulit. Co-leaders dapat berfungsi sebagai model
untuk anggota kelompok. Jacob, et al (2012: 450) mencatat beberapa alasan mengapa co-leading perlu dipertimbangkan saat perencanaan sebuah kelompok antara
lain:
Pertama
Keuntungan dari co-leading adalah berupa kenyataan bahwa co-leading selalu mempermudah dalam pemberian arahan dibandingkan bila dilakukan secara
sendiri. Misalnya, co-leader dapat menambahkan ide-ide dan turut bertanggung jawab selama kegiatan tersebut berlangsung dan dapat membantu saat bekerja dengan kelompok yang dianggap sulit seperti turut aktif dalam diskusi-diskusi yang memungkinkan untuk mengadakan perubahan-perubahan baik topik diskusinya maupun pesertanya.
Ke-dua
Sebagai peer-feedback (pasangan umpan balik). Co-leading dapat memungkinkan pemimpin kelompok meningkatkan kemampuan anggota kelompok dengan cara saling mendapatkan umpan balik sesama mereka. Jika diberi kesempatan belajar yang luas dari pengalaman ini sangat mungkin co-leading akan menjadi pemimpin
kelompok yang handal.
Ke-tiga
lnteraksi Model (interactive modeling). Co-leader dapat dijadikan sebagai model untuk anggota kelompok. Kemampuan untuk berinteraksi secara efektif dan bekerja sama dapat terlihat saat berlangsungnya kerja sama kelompok. Dalam kelompok, co-leader yang berlainan jenis akan berperan dan benar-benar efektif dalam kelompok yang sudah berkeluarga. Dalam beberapa kelompok yang terdiri atas laki-laki dan perempuan dapat saja co-leader ini sangat berperan sebagai orang tua dalam membantu memecahkan permasalahan yang terjadi dalam isu keluarga.
Ke-empat
Co-leader yang mempunyai pengetahuan khusus akan banyak diperlukan, misalnya dalam kelompok pembinaan bagi remaja hamil, pengetahuan yang berkaitan dengan
pemeliharaan kehamilan (prenatal) akan berguna dan merupakan bahan informasi yang sejalan bagi kelompok tersebut.
Ke-lima
Biasanya co-leader sering mengetengahkan pandangan pengalaman kehidupan yang berbeda kepada kelompok saat berlangsungnya diskusi kelompok dan hal ini dapat dijadikan sebagai salah satu rujukan pandangan dan isu-isu informasi·kelompok. Namun demikian, sejumlah kelemahan dan masalah dapat terjadi karena co-leading. Satu kerugian bagi beberapa lembaga dan pengaturan adalah bahwa co-leading
membutuhkan waktu dari tugas konseling lain dan dapat menambah rumit atas pekerjaan yang menuntut jadwal yang ketat. Masalah lain, yang berkaitan dengan
co-leading adalah munculnya perbedaan sikap, gaya, dan tujuan dari para pemimpin. Co-leading menjadi kerugian ketika dua pemimpin melihat kelompok dengan
cara yang tidak sama. Dalam praktiknya, Jacob, at al (2012: 453-454) model co-leading ada tiga macam, yaitu: alternative leading, shared leading, dan the apprentice model. Pemilihan model mana yang dipakai tergantung pada tujuan dan sasaran
yang hendak dicapai oleh kelompok. Selain itu, pemilihan model ini juga dapat didasarkan pada pengalaman dari kedua pemimpin kelompok, pola atau gaya
masing-masing individu co-leader/ ko-konselor, dan tingkat kemampuan dalam merasakan adanya kebutuhan akan sangat menunjang kepemilikan bentuk model.
Alternative Leading Model
Model ini merupakan model alternative dimana co-leader/ ko-konselor mengambil peran utama dalam pengarahan. Model ini sangat tepat jika co-leader/ ko-konselor secara lebih jauh dapat membawa pemecahan dalam diskusi dan menemukan solusinya dengan cara membawa anggota kelompok melalui arahan-arahan yang berlawanan, memberi dorongan, menjelaskan dan menyimpulkan hasilnya.
Shared leading Model
Model ini dapat terjadi bila co-leader/ ko-konselor dapat memberi andil dalam kepemimpinan kelompok pada periode waktu tertentu secara aktif berperan
sebagai anggota yang bekerja bersama, turut larut dan membesarkan hati mereka.
The Apprentice Model
Model ini biasanya pemimpin kelompok harus lebih berpengalaman daripada anggotanya. Dalam hal ini,co-leader/ko-konselor perlu banyak belajar melalui apa yang ia lihat dan coba sendiri untuk memberi arahan pada beberapa kesempatan tertentu.
Isu-isu tentang hokum legal
Pemimpin kelompok dapat terlibat dalam tuntutan hukum jika mereka tidak menggunakan hati-hati dan bertindak dengan itikad baik. Oleh karena itu, sebagai seorang pemimpin, konselor akan ingin memastikan untuk berlatih dalam batas-batas keahlian mereka dan tidak lalai dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin
kelompok. Seorang pemimpin yang menggunakan teknik dan praktik yang sangat berbeda dari yang biasa diterima oleh orang lain dalam profesi mungkin dianggap
lalai. Adalah kewajiban konselor memastikan bahwa anggota kelompok tidak dirugikan oleh konselor, oleh para anggota lain, atau kerugian akibat dari pengalaman kelompok. Paradise dan Kirby (1990) mendaftar kewajiban untuk melindungi konseli dan anggota lain sebagai salah satu isu hukum utama dalam kerja
kelompok. Beberapa contoh, misalnya jangan sampai anggota kelompok disuguhkan dengan aktivitas yang terlalu berat, yang melebihi batas kemampuan anggota
tersebut. Contoh lain, misalnya konselor memberikan ruang dalam proses konseling kelompoknya untuk melakukan bullying pada anggota kelompok lain baik itu
penyerangan terhadap fisik maupun penyerangan psikologis. Praktik-praktik seperti itu dianggap tidak etis, dan konselor dapat dikenakan tuduhan malpraktik jika anggota merasa dirugikan oleh pengalaman tersebut. Titik yang paling penting untuk diingat mengenai isu-isu hokum adalah untuk mengetahui undang-undang di negara dimana konseling dilakukan yang terkait dengan konseling, hak konseli, dan hak-hak orang tua dan anak-anak. Juga, penting bahwa
konselor tidak berlatih di luar tingkat pelatihan yang belum menjadi haknya dan bahwa setiap saat harus menunjukkan perhatian dan kasih saying kepada anggota kelompoknya. seorang konselor Indonesia wajib mengetahui dan mempedomani Kode Etik Konselor, sebagaimana telah diterbitkan oleh Asosiasi Bimbingan
dan Konseling Indonesia (ABKIN)
Isu-isu tentang evaluasi kelompok
Meskipun pemimpin kelompok tidak boleh menjadi sibuk dengan mengevaluasi kelompok mereka, evaluasi berkala dapat memberi mereka umpan balik yang berguna
tentang pendekatan mereka kepada kelompok, serta informasi tentang jenis pengalaman yang paling membantu dalam memenuhi tujuan anggotanya. Tiga jenis
evaluasi yang dapat dilakukan yaitu: (1) evaluasi perubahan yang benar-benar terjadi dalam kehidupan anggota, (2) evaluasi diri oleh pemimpin kelompok, dan
(3) evaluasi oleh anggota. Evaluasi Perubahan yang Benar-benar Terjadi dalam Kehidupan Anggota. Mungkin jenis yang paling penting dari evaluasi adalah evaluasi bagaimana pengalaman kelompok telah berdampak pada perilaku para anggota. Apakah siswa mendapatkan nilai yang labih baik disekolah atau mereka
mempunyai sedikit perubahan perilaku? Apakah pasangan berkomunikasi menjadi lebih efektif? Apakah ibu yang usianya masih remaja memberikan perawatan yang
lebih baik pada bayi mereka dari saat mereka tidak berada di konseling kelompok? Apakah kelompok orang yang belum mendapat pekerjaan menjadi lebih cepat
mendapatkan pekerjaan daripada yang tidak dalam kelompok? Apakah anggota yang mengalami rasa bersalah dan kecemasan mereka menjadi mampu menghadapi
kehidupan yang lebih baik setelah berada di kelompok? Beberapa pertanyaan tersebut ada yang agak mudah untuk dijawab, namun beberapa diantaranya juga sulit
untuk menjawab, tetapi setidaknya ada peningkatan yang didapat, dan peningkatan tersebut berbasis hasil evaluasi. Karena bagaimanapun, instansi pengirim,
sekolah, dan lembaga lainnya menginginkan progresif data yang menunjukkan bahwa kerja kelompok efektif dalam membawa perubahan.
Isu-isu tentang penelitian
Horne (Kurnanto, E, 2013: 194) menyatakan bahwa selama masa jabatannya sebagai editor jurnal untuk ASGW: " ... Ada peningkatan sedikit atau tidak ada dalam
penelitian berbasis, studi evaluatif dalam kerja kelompok". Gladding (2008: 420) meringkas bagian penelitian dalam buku terbarunya dengan mengatakan.
Secara keseluruhan, penelitian tentang efektivitas kelompok harus sangat diperluas untuk mencapai tingkat kecanggihan yang telah ditetapkan pada efektivitas konseling individual. Alasan mengapa riset kelompok sulit dan mengapa ada begitu sedikit kualitas penelitian di kelompok lapangan (Asner-Self, 2009; Rubel & Villalba, 2009) adalah akibat kurangnya waktu, kurangnya dana, dan kurangnya minat. Oleh karena itu, mengingat betapa pentingya keberadaan prosedur kelompok dalam layanan bimbingan dan konseling, maka sudah sepantasnya riset di bidang ini juga harus ditingkatkan, baik itu kualitas maupun kuantitasnya.
Isu-isu tentang pelatihan konselor kelompok
Saat ini lokakarya yang dilakukkan di seluruh sekolah-sekolah Amerika Serikat dan Kanada sangat memprihatinkan mereka mengakhiri kegiatan konseling
kelompok 60 sampai 90 menit, padahal sebenarnya konseling kelompok di sekolah biasanya berlangsung dari 20 sampai 40 menit. Limit waktu yang diperlukan konselor tersebut merupakan ceminan kredibilitas konselor itu sendiri, para siswa umumnya memiliki jadwal pelajaran yang sangat padat jika mereka memutuskan untuk mengikuti konseling kelompok yang berari bahwa mereka telah memutuskan untuk mengorbankan pelajaran tertentu hal tersebut mengandung arti
para siswa mengikuti konseling kelompok di bawah tekanan, tentu hal tersebut tidak efektif karena konseling kelompok bertolak pada kesediaan para anggota/
konseli mengikuti prosesi konseling kelompok, maka pelatihan bagi konselor sekolah diperlukan guna peningkatan mutualisme konselor itu sendiri sehingga
konseling kelompok bias tepat guna, waktu dan tepat sasaran.
Isu-isu tentang masa depat depan konseling kelompok
Kebanyakan ahli tampaknya setuju bahwa kerja kelompok akan terus menjadi kekuatan utama dalam bidang konseling. Gladding (2007: 17) sangat yakin tentang
potensi dan peluang konseling kelompok: "Ada sedikit potensi bahwa di masa depan, kerja kelompok akan menjadi kuat dan menembus hampir semua segmen masyarakat". Corey, Corey, dan Corey (2009) telah mendaftar peningkatan jangka pendek kelompok terstruktur untuk populasi khusus sebagai salah satu trend
utama dari dekade terakhir dengan ia mengatakan bahwa masa depan kerja kelompok terletak pada integrasi teori dengan model konseling, multi-indera yang
aktif, keterampilan intrapersonal yang memadai. Seorang pemimpin perlu belajar lebih banyak cara untuk melibatkan anggota dalam proses terapi saat menggunakan teori konseling dan model intrapersonal.
Terapis akan membutuhkan dan menuntut pelatihan yang lebih baik karena mereka menjadi lebih sadar isu hukum dan etika di seputar kerja konseling kelompok. Sebagai rekomendasi akhir, kiranya institusi penyelenggara pendidikan konselor dan atau Perguruan tinggi yang mempunyai ProgramStudi atau Jurusan Bimbingan
dan Konseling sudah saatnya untuk lebih mengedepankan penyelenggaraan pendidikan yang memberikan pembobotan yang lebih pada mata kuliah keterampilan. Hal
tersebut dimaksudkan untuk menghindari adanya pernyataan bahwa lulusan pendidikan bimbigan dan konsleing dana tau pendidikan konselor kurang bahkan tidak
memiliki skill dan atau kompetensi dalam hal ini melakukan praktik konseling kelompok.
References
Adhiputra, N (2015) “konsling kelompok teori dan aplikasi”. Yogyakarta: Media Akademik.
Berg, R., Landreth, G, L., & Fall, K, A., (2006) “group counseling concepts and procedures. Fourth edition New York: Brunner-Routledge
Brown, N.W (1994) “ group counseling for elementary and middle school children”. Connecticut London: Praeger
Corey, G. (2012) “Theory & Practice of Group Counseling”. Eighth Edition. Canada: Cengage Learning
Jacobs, ED.E., Masson, R., Harvill, R., Schimmel, C, J. (2009) “ group counseling strategi and skiils”. Canada: Linda Schreiber-Ganster.
Kurnanto, E. (2013) “ Konseling Kelompok”. Alfabeta. Bandung
Latipun. (2006) “Psikologi Konseling”. Malang: UMM Press
Rusmana, N. (2009) “ Bimbingan dan Konseling Kelompok di Sekolah Metode, Teknik dan Aplikasi. Bandung: Rizke Press
Sonstegard, M., Bitter, J, R., & Pelonis, P. (2004) “ Adlerian Group Counseling and Therapy Step-by Step. New York: Brunner-Routledge
PERTEMUAN IV (DIMENSI KELOMPOK DALAM KONSELING)
Dimensi dalam bab ini dimaksudkan sebagai sesuatu yang menjadi again dari keberadaan layanan konseling kelompok, dengan kata lain, dimensi di sini dapat diartikan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi kualitas konseling kelompok sebagai sebuah layanan konseling. Dengan memperhatikan setiappendekatan yang dipakai oleh konselor dalam membentuk sebuah kelompok dalam konseling, Dimock (Posthuma, 1996: 34) mengidentifikasi ada lima dimensi dalam konseling kelompok, yaitu (1) iklim, (2) interaksi, (3) keterlibatan, (4) kohesi dan produktivitas. Dimensi tersebut diuraikan sebagai berikut:
Kualitas konselor
Kualitas konselor (7) kehangatan; (8) pendengaran aktif; (9) kesabaran; (10) kepekaan; (11) kebebasan; dan (12) kesadaran holistik
7. Kehangatan
Kehangatan (warmth) maksudnya satu kondisi yang mampu menjadi pihak yang ramah, peduli, dan dapat menghibur orang lain. Kehangatan pada umumnya dikomunikasikan dengan cara-cara non-verbal seperti tekanan suara, ekspresi mata, mimic wajah, dan isyarat badan. Kehangatan diperlukan dalam konseling karena (a) dapat mencairkan kebekuan suasana, (b) mengundang untuk berbagi pengalaman emosional, (c) memungkinkan konseli menjadi hangat dengan dirinya sendiri. Konselor yang memiliki kehangatan, menunjukkan kualitas sebagai berikut: (a) mendapatkan kehangatan yang cukup dalam kehidupan pribadinya, sehingga mampu untuk berbagi dengan orang lain, (b) mampu membedakan antara kehangatan dan kelembaban, (c) tidak menakutkan dan membiarkan orang merasa nyaman dengan kehadirannya, (d) memiliki sentuhan manusiawi yang mendalam terhadap kemanusiaan dirinya. Salah satu dari hambatan untuk menjadi konselor yang hangat adalah dengan mengintelektualisasikan pendekatan hidup. Konselor yang semacam ini salah memahami konsep "jarak professional" dan termasuk di dalamnya keharusan untuk menjaga jarak emosional mereka sendiri dengan konseli.
Pertemuan III (Kualitas Konselor)
Kepribadian seorang konselor merupakan faktor yang paling penting dalam konseling. Seperti yang dinyatakan Perez “ temuan penelitian menunjukkan bahwa pengalaman, orientasi teoritis dan teknik yang digunakan bukanlah penentu utama efektivitas seorang terapis, akan tetapi kualitas pribadi konselor, bukan pendidikan dan pelatihannya sebagai kriteria dalam evaluasi keefektifannya. (Surya, 2003: 57) Kepribadian konselor merupakan titik tumpu yang berfungsi sebagai penyeimbang antara pengetahuan mengenai dinamika perilaku dan keterampilan terapeutik.
Fungsi; tujuan dan manfaat konseling kelompok
Fungsi konseling kelompok
Berangkat dari sejumlah definisi konseling kelompok di atas maka konseling kelompok memiliki beberapa fungsi. Sebagaimana Nurihsan, J (2006:24) menyatakan bahwa konseling kelompok mempunyai dua fungsi yaitu layanan yang diarahkan untuk mengatasi persoalan yang dialami individu, dan fungsi layanan preventif; yaitu layanan konseling yang diarahkan untuk mencegah terjadinya persoalan pada diri individu.
Pertemuan II (Rasional, pengertian, fungsi, tujuan dan manfaat kelompok dalam konseling)
Rasional Konseling Kelompok
Pemaparan konsep kelompok merupakan sebuah sistem yang terdiri atas person-person yang mendukung eksistensi kelompok dan memiliki kebutuhan terhadap kelompok. Secara mendasar penggunaan kelompok sebagai alat atau media membantu dalam konseling karena individu pada hakekatnya adalah makluk sosial. Individu pada dasarnya selalu membutuhkan orang lain untuk belajar serta mengembangkan diri. Bagaimana kelompok dan setiap anggota kelompok berkembang merupakan bahasan dinamika kelompok.
KONSEP DASAR PROSEDUR KELOMPOK DALAM KONSELING
Konseling adalah sebuah profesi yang sifatnya membantu (helping profession) oleh karenanya konseling mempunya prosedur tertentu tidak terkecuali prosedur kelompok dalam konseling. Menurut Ward (Berg, Landreth dan Fall, 2006) prosedur kelompok dalam konseling telah lama dipertimbangkan dan digunakan oleh orang ahli atau konselor sebagai metode yang dipandang lebih bijaksana dalam membantu konseli. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kelompok untuk berbagai fungsi pendiidkan dan konseling memberikan beberapa keuntungan yang sangat bermanfaat mencapaian tujuan. Selanjutnya Corey & corey, (2006) Gazda, Ginter Horne (2001) menyatakan bahwa melalui program kelompok dalam konseling dapat memberikan berbagai macam pengalaman kepada individu melalui kegiatan dalam kelompoknya suatu kelompok yang dapat membantu mereka mengembangkan cara belajarnya, keberfungsiannya secara efektif, mengembangkan toleransi terhadap stress dan kecemasan lebih jauh menemukan kepuasan dalam bekerja dan hidup persama orang lain sebagai mahluk social.


![download[4]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOk1HxmwkHKXq5NHlBow92SypEcUBOHsokiIFZ4ErD1cYC3mqBWEmlSdGDgbDaNmbWYmCkA2RjOY13iKXyqpaQjqh60gBLzEaU8nC9FBrjVF_XVsrDh3tooOo9JlM45_1ggKHTcMvEZiA/w1274-h428-o-k/download+button+ungu+.png)















