Latest Post
Tampilkan postingan dengan label SMPN SATAP Sungai Bertam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SMPN SATAP Sungai Bertam. Tampilkan semua postingan
TES IQ SINGKAT (Quick IQ Test)
Intelegen quotient atau IQ ialah angka yang
mana menjelaskan tingkat kecerdasan seseorang yang dibandingkan dengan
sesamanya dalam satu populasi. Definisi asli dari IQ adalah sebuah rasio dari
umur secara mental dibagi umur secara fisik dan dikalikan dengan angka 100. Umur
secara mental dihitung berdasarkan dasar dari rata-rata hasil di dalam sebuah
tes yang di bagi dalam setiap kategori.
Alasan Memimpin Kelompok dalam Bimbingan dan Konseling
Jika anda seorang pemimpin kelompok atau seorang yang memimpin kelompok tertentu, anda mesti berpikir bahwa anda mempunyai pengalaman tentang sebuah kelompok, terutama jika anda menyakini bahwa keberadaan anda pada kelompok tersebut merupakan satu kesatuan dan atau bagian yang sangat kuat dari kelompok itu sendiri, rasa memiliki akan keutuhan dalam pencapaian tujuan bersama atau sebaliknya bahwa anda merasa kurang solider bersama kelompok anda, kendatipun demikian pada hakikatnya setiap individu mempunyai semacam pengalaman kelompok, baik itu di kelas bagi peserta didik, sesi orientasi, sesi pelatihan kerja, pertemuan mingguan, rapat staf, penyuluhan atau kelompok dukungan, kemasyarakatan dan lain sebagainya.
Kualitas Kepribadian Konselor
Kepribadian seorang konselor merupakan faktor yang paling penting dalam konseling. Seperti yang dinyatakan Perez temuan penelitian menunjukkan bahwa pengalaman, orientasi teoritis dan teknik yang digunakan bukanlah penentu utama efektivitas seorang terapis, melainkan kualitas pribadi konselor itu sendiri dan bukan pendidikan ataupun pelatihannya sebagai kriteria dalam evaluasi keefektifannya. (Surya, 2003: 57)
Rasional Bimbingan dan Konseling Kelompok SMPN SATAP Sungai Bertam
Terbentuknya berbagai kelompok
dalam sebuah peradaban manusia merupakan hakikat akan manusia itu sendiri yang kelak
dikenal sebagai mahluk sosial yang tak mungkin dapat hidup dengan layak jika ia
hidup sendiri, selanjutnya berkumpulnya sejumlah orang dengan berbagai kualitas
dan kuantitas tertentu, disadari ataupun tidak, disengaja ataupun dipaksa
perkumpulan tersebut akan mengantarkannya pada sebuah eksistensi tertentu dan
oleh karenanya manusia selalu berusaha hidup dalam kumpulan dan kebersamaan
antara satu dengan yang lainnya, antara tujuan satu dengan tujuan yang lainnya,
harapan yang satu dengan harapan yang lainnya, misi yang satu dengan misi yang
lainnya, singkatnya ia merasakan bahwa dirinya merupakan bagian daripada yang
lainnya, hal inilah yang selanjutnya disebut dengan kelompok.
Lantas bagaimana dengan peristiwa
atau kegiatan berkumpulnya sejumlah orang dalam konteks masyarakat yang lebih
luas terhadap objek-objek tertentu seperti kecelakaan lalu lintas, pertandingan
sepak bola, peristiwa kebakaran dan peristiwa sejenisnya, hal tersebut seringkali
mengundang perhatian orang banyak sehingga mendorong dirinya untuk dapat
menyaksikan, menikmati dan melibatkan diri yang kemudian tanpa disadari mereka
telah membentuk perkumpulan, lalu jika demikian, apakah peristiwa-peristiwa
tersebut dapat dikatakan kelompok? Jawabannya belum tentu. Sebagaimana Prayitno
(1995: 15 – 16) menyatakan berkumpulnya sejumlah orang dapat membentuk suatu
kerumunan yaitu kalau berkumpulnya orang-orang itu disebabkan karena adanya
suatu kejadian atau objek yang menarik perhatian mereka sedangkan diantara
orang-orang itu tidak ada saling kaitan sama sekali, sedangkan kerumunan dapat
membentuk kelompok yaitu kalau terhadap orang-orang yang berkumpul itu berlaku
hubungan atau kaitan tertentu antara orang tersebut. Kerumunan dapat berubah
menjadi kelompok yaitu jika unsur-unsur hubungan antara orang-orang yang ada di
dalamnya ditingkatkan, sebaliknya suatu kelompok dapat berubah menjadi
kerumunan yaitu apabila unsur-unsur pengikat antara anggota kelompok makin
mengendor. Dalam kasus ini Prayitno (1995) merefleksikannya dalam diagram di
bawah ini
Kerumunan dan kelompok dapat
berubah menjadi sekadar kumpulan orang-orang belaka, yaitu kalau unsur penarik
perhatian (objek yang menimbulkan kerumunan) dan unsur-unsur pengikat antara
orang-orang yang berkumpul (yang menimbulkan kelompok) menjadi hilang. Berikut
akan diilustrasikan lebih jauh mengenai kerumunan, kumpulan dan kelompok.
Sebuah bus yang sarat akan
penumpang malaju menuju tujuan tertentu, pada awalnya para penumpang mungkin
belum saling mengenal atau hanya merupakan kerumunan atau bahkan kumpulan orang
yang mempunyai tujuan dan kepentingan yang berbeda antara satu dengan yang
lainnya, ditengah perjalanan tiba-tiba bus mogok dengan sebab yang tidak
diketahui oleh sopir, kegelisahan sang sopir mengundang kepanikan bagi para
penumpang munculnya kepanikan tersebut memunculkan pula tujuan yang sama bagi
para penumpang (yang tadinya hanya kerumunan dan atau kumpulan) berubah menjadi
kelompok (kelompok para penumpang bus yang macet yang menginginkan busnya
beroperasi kembali). Saat itulah tiba-tiba para penumpang merasa tujuan dan
kepentingan mereka terganggu, mereka merasa senasib dan mempunyai keinginan
yang sama yaitu agar bus tersebut segera baik kembali.
Dalam kondisi seperti di atas
biasanya sosok pemimpin hadir dengan sendirinya tanpa pemilihan terlebih
dahulu, dan hal inipula yang biasanya diperlukan, selalu ada figur yang
setidaknya memberikan saran tempat berteduh, menenangkan para penumpang dengan
mangatakan bahwa bus akan segera jalan kembali (kendatipun ia bukanlah seorang
montir yang handal), pertukaran air minum, makanan ringan hingga komunikasi tertancap
mantap pada persoalan “apa yang terjadi dengan bus dan bagaimana caranya agar
bus dapat beroperasi kembali.”





