Cerita Al-quran tentang cinta pertama manusia kepada Allah Swt



Masih pada penulis yang sama Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy berikut akan dituliskan kembali cerita Al-quran tentang cinta pertama manusia kepada Allah Swt
Berikut penjelasannya

Al-quran banyak menyinggung tentang cinta Allah Swt kepada manusia, baik cinta yang diberikan saat manusia itu lahir, maupun cinta yang diupayakan dengan sungguh-sungguh. Ada dua jenis cinta dalam hal hal ini yaitu cinta yang tersembunyi di balik ruh dan cinta yang muncul melalui hati dan perilaku.

Cerita Al-quran tentang cinta pertama manusia kepada Allah Swt

Yang dimaksud adalah cinta yang bersemi di balik ruh manusia sebelum tubuhnya menjadi bagian-bagian. Cinta ini lahir akibat ruh yang dinisbatkan kepada Allah Swt. Penisbatan ini bersih dari bentuk pemisahan, terlepas dari ruang dan waktu. Pemahaman ini hanya berada di wilayah ilmu Allah Swt sebab banyak kenyataan ilmiah yang terjadi di alam raya ini yang tak dipahami oleh manusia.

Cinta semacam ini telah dijelaskan oleh Allah Swt bentuk dan sumbernya, yang di dalamnya telah terjadi dialog yang mengagumkan antara Allah Swt dan ruh manusia ketika masih berupa satu hakikat yang utuh di alam Rahim.

Allah Swt berfirman

وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡـهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِـهِمۡ أَلَسۡـتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَـهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِيـنَ ١٧٢

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman) ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini,” (QS Al-A`raf [7]: 172)

Mungkin anda bertanya, dimana letak cerita cinta dalam ayat ini? Cerita cinta dalam ayat ini terletak di balik pertanyaan Allah Swt kepada ruh. Tidakkah Anda ketahui bahwa apa yang dirasakan oleh jiwa manusia, seperti perasaan rindu, rasa sedih, dan haru ketika angin menerpa itu semuanya bersumber dari perintah Allah Swt kepadanya? Apa tanggapanmu mengenai dialog Allah Swt dengan ruh manusia di alam Rahim itu? Bagaimana reaksimu ketika ruh itu menerima pertanyaan dari Rabb atau penciptanya? Kemudian, apa tanggapanmu tentang pertanyaan Allah Swt yang berisi pernyataan,” Bukankah Aku adalah Rabb kalian?”

Baca juga Muara Cinta Allah Swt Kepada Manusia

Sebagian orang beranggapan bahwa berita yang Allah Swt sampaikan kepada ruh itu aneh. Bagaimana mungkin Allah Swt berdialog dengan janin yang terbagi-bagi, belum ada telinga, daya ingat, organ ucap, dan lain-lainnya? Jawabannya, justru mengapa mereka menanyakan struktur tubuh berkaitan dengan dialog Allah Swt dengan ruh itu? Bukankah justru pertanyaan itu yang aneh, bahkan merupakan sebuah kebodohon tulen? Satu hal yang mesti mereka ketahui bahwa dialog itu terjadi antara Allah Swt dan ruh manusia secara langsung, tanpa membutuhkan perantara telinga dan daya ingat dalam kepala.

Kemudia, ada yang bertanya, mengapa ruh-ruh kami tidak menceritakan hal demikian? Mengapa peristiwa tidak terekam dalam daya ingat kita? Bukankah daya ingat yang kita miliki adalah daya ingat ruh, pembangkit kehidupn kita? Berangkali ruh itu telah lupa akan pertanyaan Allah Swt itu Karena rentang waktu yang terlalu lama sehingga meskipun kita berusaha mencari tahu hal itu, tetap saja tidak ada jawaban.

Jawabannya, ruh amat jelas terekam pada perilaku kita sehari hari. Tidakkah anda merasa adanya kerinduan dalam diri anda terhadap sesuatu yang tidak Nampak di mata anda? Tidakkah anda merasa rindu terhadapn sesuatu yang jauh dari anda? Apakah anda tidak merasa adanya keinginan untuk tunduk terhadap sesuatu? Pernahkan anda merasa lemah, butuh pertolongan, lalu anda merasakan bahwa Allah Swt maha kuat dan tempat bergantungnya seluruh alam? Itu semua tak lain bisikan ruh kepada anda. Ruh menceritakan kepada anda tentang kepenatannya, mengembalikan daya ingat anda, dan menceritakan kepada anda tentang kesedihan masa lalunya dan janji-janjinya.

Baiklah, saya akan mengingatkan anda tentang sesuatu yang sulit ditemukan oleh para peneliti sekalipun tentang sebuah rahasia dan sumbernya, yaitu gejolak jiwa yang terjadi dalam diri anda saat mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan dengan suara yang merdu, membangkitkan perasaan tindu, rasa gembira dan rasa sedih. Anda tidak tahu darimanakah perasaan itu muncul. Anda juga tidak tahu ke mana perasan itu berlalu? Darimana sumber gejolak jiwa ini? Sumber gejolak itu adalah masa lalu ketika Allah Swt menyatakan,” bukankah Aku ini adalah Rabb kalian?” kemudian, ruh ini terus merindukan masa-masa itu. Hanya saja tidak ada Bahasa atau kata-kata yang bisa mengungkapkan perasaan rindu itu Karena sedikitnya Bahasa dan lemahnya kata-kata untuk mengungkapkan perasaan ruh. Ketika ruh ini mendengarkan suara-suara merdu, yang terjadi adalah gejolak rindu sebagai bentuk ungkapan jiwa. Ketika Bahasa dengan segala macam bentuk penjelasannya tidak bisa mengungkapkan perasaan jiwa, gejolak itulah bentuk ungkapannya.

Baca juga Muara Cinta Allah Swt Kepada Manusia

Ada sebagian orang mengatakan bahwa kemungkinan gejolak itu terjadi Karena lagu yang dinyanyikan itu memiliki daya magis dan suara merdu sehingga mampu menggugah perasaan. Lagu-lagu bisa saja membangkitkan gejolak jiwa seseorang. Hal itu terjadi lantaran adanya keserasian antara karakter lagu dan kesedihan yang melanda jiwa. Hanya saja, kita tidak setuju bahwa kerinduan jiwa tidak hanya terfokus pada masa lalunya, tetapi juga pada kerinduan yang berhubungan dengan manusia, bentuk, dan tempat. Kemudian, muncullah perasaan cinta yang ia rasakan saat berjauhan dan tidak dirasakan sat berdekatan.

Untuk menyelami hakikat kebenaran ini, harus dijelakan secara terperinci sebagai berikut. Ruh manusia, apapun bentuknya, akan cenderung kepada yang dicintai, yang diyakini paling indah tiada duanya, yaitu Allah Swt sebab hubungan (penyandaran) antara ruh tersebut dan Allah Swt ada serta akan terus ada, sebuah hubungan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata atau dibayangkan dengan imajinasi. Semua bentuk keindahan yang tersebar di muka bumi ini menjadi nisbi sebab semuanya muncul setelah keindahan-Nya

Faktor yang menghalang-halangi manusia dari perasaan luhur yang dibawa oleh ruh dengan cinta dan kerinduan adalah naluri kebinatangannya, kecenderungan untuk mencari kenikmatan, dan hawa nafsu. Diantara bentuk naluri kebinatangan jika tidak diarahkan dengan agama yang kuat akan mengirimkan cinta kerinduan ruh ke alam maya, lalu mengungpkannya sesuai dengan keinginan. Ruh merindukan keindahan luhur yang bersifat abadi sedangkan naluri kebinatan yang ada dalam diri manusia hanya mellihat keindahan yang bersifat dan berusaha menghalang-halangi jalan yang menghantarkan ruh ke alam lurhurnya

Baca Juga Cinta Allah Kepada Manusia

Ruh mencari Zat yang maha Mahagung dan yang maha Esa yang ia ketahui dari dulu. Sementara itu, naluri kebinatangan mengirimkan keinginan ruh hanya untuk memenuhi keinginannya sendiri. Ruh mencari yang Mahabaik dan yang Maha Esa. Sementara itu, hawa nafsu dan naluri kebinatangan meletakkannya di hadapan patung-patung dan gambar-gambar orang baik. Namun palsu

Dari apa yang saya jelaskan tadi, pasti ada pertarungan antara ruh yang terus naik ke alam luhur naluri kebinatangan yang terus turun ke alam dunia. Jika naluri kebinatangan itu tidak diiringi pendidikan dan pembinaan yang berkelanjutan, termasuk di dalamnya proses pembersihan diri, tentu pertarungan itu akan dimenangkan oleh naluri kebitangan. Di antara dampak dari kemenangan naluri adalah manusia tidak lagi merasakan adanya pengawasan ruh dan kerinduannya. Yang ia rasakan hanyalah keinginan naluri kebinatangan itu berbentuk hawa nafsu dengan dalih kebutuhan jiwa, padahal jiwanya telah terkalahkan oleh hawa nafsu dan kenikmatan dunia yang fana.

Namun, jika manusia bisa memberikan jiwanya sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam kitab Allah Swt dan menjadikannya sebagai obat penawarnya (dengan cara banyak berzikir kepada Allah Swt dan merasa diawasi oleh-Nya) itu adalah makanan terbaik jiwa dan cara terbaik untuk menghentikan keinginan nafsu kebinatangan. Dengan memperbanyak zikir, ruh akan menjadi sehat dan naluri kebinatangan pun akan semakin memudar. Bahkan, bersamaan dengan waktu, ia akan hilang sehingga akhirnya ruh atau jiwa itu akan menang dan terbebas dari belenggu naluri kebinatangan yang cenderung kepada keindahan palsu dan kenikmatan dunia yang semu. 

Baca Juga Cinta Allah Kepada Manusia


Ketika itu, rh dengan emiliknya berhasl melampaui berbagai bentuk keindahan palsu sehingga sampai pada sumber mata air yang bersih, sumber keindahan, keindahan Yang Maha Esa, yaitu Allah Swt. Kemudian, ia berikan kepada-Nya semua cinta dan kerinduannya.  Saat itu berhasil melampaui berbagai bentuk kebaikan yag lahir dari orang-orang munafik sehingga sampai kepada Yang Mahabaik, Yang Maha Esa, yaitu Allah Swt. Kemudian, ia berikan kepada-Nya kesetiaan dan penghormatan

Dengan demikian, kami ulang kembali bahwa kerinduan ruh atau jiwa itu hanyalah kepada dunianya yang luhur dan untuk masa lalunya yang telah direkam dalam Al-quran dalam bentuk pernyataan Allah Swt kepada ruh tersebut. Bercampurnya perasaan ruh dengan naluri kebinatangan itu terjadi ketika masih bergeloranya naluri tersebut dan ketika tidak ada lagi pembinaan yang terus menerus yang disertai penyucian diri. Para ulama memastikan hakikat kenyataan ini dan mengembalikan ke sumbernya yang berupa penjelasan Allah Swt. Dalam ayat yang telah saya sebutkan pada pembukaan bab ini. Antara mereka yan paling terjenal dalam menjelaskan hakikat ini adalah Abu Ali Ibnu Sina (370 – 428).

Begitulah hakikat cinta manusia terdahulu kepada Allah Swt. Tak satupun yang dapat menghalangi manusia dari perasaan cintanya, kecuali nafsu dan gejolak naluri kebinatangannya. Gejolak ini hanya bisa diredam dengan “tazkiyah nafs” (pembersihan diri). Orang yang berusaha membersihkan dirinya secara terus menerus maka jiwanya akan tampak bersih dari kotoran hawa nafsu. Kemudian, secara perlahan, ia akan tunduk kepada kehendak jiwanya dengan memperbaiki zikir, beribadah, dan menjaga diri dari perbuatan dosa.

Baca Juga Cinta Allah Kepada Manusia


Ketika itu, akan lahir cinta baru yang diupayakan di atas cinta lama terdahulu. Kemudian, cinta baru ini kian mendalam seiring meningkatnya proses pembersihan diri, pendekatan kepada Allah Swt ,dan rasa syukur yang diucapkan setiap waktu. Naluri kebinatangan itu akan tetap ada dalam jiwa dan tetap berupaya mendapatkan keinginannya. Namun, tentunya dalam kondisi yang stabil dan jauh daru gejolak. inilah yang dimaksud firma Allah Swt tentang cinta lama manusia kepada Allah Swt.




Share this article :
 
Comments
0 Comments
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Muhamad Hamdi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger