Keunggulan Wilma Rudolph




Inilah yang akan mereka lihat, mereka serentak bangkit begitu mendengar tembakan pistol pertandingan bergema di Stadion Olimpiede Roma. Mereka ingin melihat apakah gadis Amerika Serikat anggun berkaki panjang yang disebut orang Eropa sebagai La Gazelle Noire (Si Kijang Hitam) dapat melakukannya kembali. Keberhasilan dia sebelumnya telah mencengangkan mereka. Tetapi lomba ini, lari estafet400 meter, merupakan tantangan terbesar. Ia akan menjadi kunci tim, sebagai pelari terakhir dari empat pelari Universitas Negeri Tennessee. Kecuali untuk dirinya, Amerika Serikat belum banyak berhasi ldi Olimpiade 1960. Para pelari Jerman menjadi favorit, dengan pelari kunci Jutta Heine, yang luar bisa cepat dan belum pemah kalah setibanya di Roma. Jika tim Amerika Serikat menang, di tengah panas dan kelembapan yang menekan pada siang awal September itu, tiada yang bisa mengingkari bahwa Kijang Hitam berusia dua puluh tahun itu adalah perempuan tercepat di muka bumi. Ini merupakan ambisi besar yang pernah diakuinya kepada pelatih, yaitu menjadi "pelari perempuan tercepat di muka bumi yang pernah ada".

Hanya beberapa tahun setelah ia membuktikan bahwa dokter-dokternya keliru, dan ia bisa berjalan. Blanche dan Eddie Rudolph telah melahirkan sembilan belas anak ketika Wilma lahir pada 23 Juni 1940, dua bulan lebih dini dari jadwal Blanche terjatuh dan nyaris langsung melahirkan. Dengan bobot sedikit di atas dua kilogram, Wilma Glodean Rudolph tidak diharapkan untuk hidup lama. Tetapi kenyataan bahwa bayi baru lahir itu berhasil melewati minggu-minggu pertama penuh risiko merupakan petunjuk awal dari kekuatan yang akan membawanya dengan aman melewati berbagai krisis di masa kanak-kanaknya. Blanche dan Eddie adalah orangtua luar biasa. Mereka bekerja keras dan mengabdi kepada anak-anaknya. Tetapi dengan dua puluh dua anak (dua anak lagi lahir setelah Wilma) dan masing-masing memiliki lebih dari satu pekerjaan, sangatlah sulit memberi banyak perhatian kepada setiap anak. Eddie bekerja sebagai partir (pengangkat barang) di kereta api dan pekerja perbaikan rumah, Blanche menjadi pencuci pakaian dan pekerja rumah tangga. 

Wilma membutuhkan banyak perhatian, dan sedikit kemungkinan mendapat bantuan dari luar keluarganya. Kemiskinan keluarga dan ketidakadilan dari kebijakan pemisahan di Selatan Amerika Serikat memberi sangat sedikit kemungkinan bagi keluarga Rudolph ketika mencari bantuan perawatan di masyarakat pedesaan Clarksville, Tennessee, untuk putri mereka yang sangat hidup tetapi berpenyakit kronis. Mereka berusaha sebaik mungkin. Meskipun miskin mereka kaya kebaikan, memberikan kebutuhan cinta dan dorongan pada anaknya untuk percaya bahwa suatu hari ia akan menjadi gadis yang sehat dan bahagia. Ketika Blanche pulang ke rumah penuh sesak di akhir sebuah hari kerja yang melelahkan pada keluarga kulit putih kaya, memasak makan malam untuk keluarganya, dan menyelesaikan jahitan pakaian mereka dari karung tepung bekas, ia meluangkan menit-menit terakhir untuk mengasuh Wilma kecil melawan penyakit terbarunya. Apa pun penyakit anak-anak yang mengenai salah satu keluarga di Clarksville, semua tidak pernah berlalu tanpa menyerang Wilma. Ia mengalami campak, cacar, dan batuk rejan, sebelum usia empat tahun. Flu dan batuk pilek selalu menyerangnya. Ia menghabiskan sebagian besar masa kanak-kanaknya di ranjang. Satu satunya rumah sakit di Clarksville hanya diperuntukkan bagi orang kulit putih, dan hanya ada satu dokter kulit hitam di kota. Blanche merawat Wilma dengan berbagai obat rumahan, membungkus gadis kecilnya dengan selimut agar berkeringat dan demamnya turun.

Mendadak sebelum ulang tahun ke limanya, Wilma menderita sakit berat akibat demam jengkering dan radang paru-paru. Sekali lagi ia diduga tidak akan bertahan hidup. Dia dibungkus dengan selimut; keluarganya memberi obat-obat rumahan yang biasa diberikan kepadanya, menghibur, dan berdoa. Namun penyakitnya tetap bertahan. Bahkan ketika krisis mulai terjadi, muncul gejala aneh yang semakin mengkhawatirkan keluarganya. Tungkai kaki kiri Wilma mulai memuntir ke satu sisi. Ketika orangtuanya meminta agar dia menggerakkannya, ia berkata bahwa ia gagal menggerakkanya. Mereka memanggil dokter, dan setelah memeriksa sekilas, ia memberi tahu Eddie dan Blanche bahwa putrinya terserang polio, yang belum ada obatnya. Kalapun ia bertahan hidup, katanya, ia tidak akan bisa berjalan lagi. Jadi, untuk semua tujuan praktis, hidup Wilma Rudolph sudah berakhir.

Baca Juga Kejujuran Thomas More


Terlepas dari semua penyakitnya, pada dasarnya ia anak yang bahagia, manis, dan pintar. Tetapi tentu semua orang mustahil berharap bahwa ia akan berhasil melalui masa kanak-kanak yang sulit dengan keadaan seperti itu. Ia tidak akan pernah bisa bermain seperti kakak-adiknya. Mungkin ia gagal bersekolah dan harus mengandalkan pendidikan dari orangtuanya, yang bebannya sudah terlalu banyak. Terapi dan perawatan harus diberikan oleh keluarganya sendiri dan dengan gratis oleh seorang dokter yang baik, pemurah, meski terlalu sibuk yang bersedia merawat pasien kulit hitam dan di sebuah sekolah kedokteran untuk kulit hiram lima belas mil jauhnya, di kota Nashville. Perawatan itu berguna jika ia ingin berkesempatan belajar hidup dengan sedikit mandiri, untuk dapat sedikit bergerak dengan bantuan tongkat dan penahan tungkai. Manusia dapat benahan terhadap kesulitan besar dan menimba kekuatan dari sumber yang tak terbayangkan mereka. Tetapi penyakit ini merupakan beban teramat besar bagi pundak yang begitu kurus. 

Nyaris sejak saat diagnosis diberikan, Wilma jadi putus asa. Dia terpaksa tinggal di rumah ketika mencapai usia sekolah, dibiarkan menangis sendirian di tempat tidur di siang hari, masih terkena flu dan batuk-pilek. Dia merasakan kecemasan akut dari mereka yang telah kehilangan harapan. Apalagi saat pagi hari, ketika ia menekankan wajah ke jendela untuk memulai satu hari lagi yang panjang dan sulit. "Saya kesepian dan merasa ditolak," ingatnya. "Saya akan terpejam dan hanyut dalam perasaan tenggelam, semakin turun, turun, dan turun." Keluarga menyelamatka dirinya. Dorongan dan perawatan mereka membantu Wilma mengatasi putus asa, mendapatkan sejumlah besar kekuatan dan keberanian, juga kekuatan pemusatan pikiran yang nyaris supra-manusia. Kelak hal itu akan membuatnya dikenal sebagai anak ajaib mereka. Ia mengaitkan semua kualitas itu dengan keberuntungan besar karena memiliki keluarga yang mengasihi. "Para dokter mengatakan bahwa saya tidak akan pemah bisa berjalan,"tulisnya dalam autobiografi, "tetapi ibu mengatakan bahwa saya akan bisa berjalan, jadi saya percaya pada ibu." Suatu hari, ketika Wilma merasakan gejala suatu penyakit lain, ia memutuskan dirinya akan mulai melawan. "Cukup! Saya menolak segala sesuatu yang muncul, tidak mau lagi terhanyut atau bertanya-tanya lagi."

Setiap Sabtu, Wilma dan ibunya pergi dua jam bolak-balik ke Sekolah Kedokteran Meharry, Nashville untuk terapi panas dan pijat, duduk dibagian belakang bus sebagaimana diharuskan peraturan Jim Crow. Ketika staf memanipulasi kaki kirinya yang lumpuh, Wilma menggigit bibir dan menahan tangis dari nyeri. Blanche memperhatikan para dokter dan perawat dengan cermat dan mempelajari cara melakukan terapi itu di rumah. Ia juga mengajarkannya kepada anak-anak lainnya. Empat kali sehari setiap hari, ibu atau saudara-saudarinya akan memijat tungkai kaki Wilma, kemudian ibunya akan membungkus dengan selimut dan botol air panas. Wilma juga mengambil tanggung jawab untuk pemulihannya, ia menghabiskan berjam-jam ketika sendirian di rumah melakukan berbagai latihan untuk meluruskan tungkai, menahan nyeri, dengan kepercayaan diri semakin besar bahwa ia akan berjalan lagi. Perlahan-lahan, sangat perlahan, ia mulai membaik.

Pada mulanya ia hanya dapat melompat dengan satu kaki untuk bergerak di dalam rumah. Pada usia tujuh tahun ia telah belajar berjalan dengan tongkat penopang dan penahan tungkai, dan bersekolah untuk pertama kalinya. Tetapi ternan-ternan sekolahnya, seperti kerap dilakukan oleh anak-anak lain, sering mengolok-olok cacatnya. Mungkin kenyataan bahwa ia berbeda dari anak-anak lain, meski bukan Karena kesalahannya sendiri, agak menakutkan atau mengintimidasi mereka, dan mereka bereaksi dengan mengolok-oloknya. Mungkin juga mereka sekadar menyerah kepada aspek manusia yang mendorong seseorang menggunakan kesempatan mengerdilkan orang lain demi membuktikan superioritas diri sendiri, padahal kita semua harus waspada terhadap hal itu. Terlepas dari apa pun alasan mereka menyakitinya, dan ia memang menderita oleh perlakuan itu, mereka senantiasa gagal membuktikan diri lebih kuat daripada gadis kecil kuat dah teguh yang mereka tertawakan. Selama dua tahun berikutnya Wilma berjuang setiap hari untuk belajar jalan tanpa tongkat dan penahan tungkai. Pada mulanya ia berusaha berdiri sebentar tanpa alat itu, setiap hari ia menambah waktunya. Kemudian ia mulai melangkah goyah tanpa bantuan. Akhirnya, tepat sebelum ulang tahun ke sepuluhnya, ia memutuskan membuktikan kepada semua orang bahwa ia telah mengalahkan polio. Pada suatu Minggu pagi ia menyertai keluarganya ke gereja. Ketika salah satu dari mereka menahan pintu gereja agar Wilma bisa masuk, ia berkata kepada mereka semua agar masuk tanpa dia, dan ia akan menyusul. Setelah keluarganya masuk, ia melepas penahan tungkai, meninggalkan tongkat itu di tanah, dan berjalan pincang memasuki gereja ke bangku tempat keluarganya sudah duduk. 

Baca Juga Kejujuran Thomas More

Semua orang yang ia kenal ada di sana, semua kepala berpaling dan semua hati bergembira. Wilma telah menunjukkan kepada mereka semua. Sejak saat itu ia sesedikit mungkin menggunakan penahan tungkai, mengenakan sepatu ortopedik khusus untuk berjalan. Pada saat berusia dua belas tahun, ia dan ibunya mengembalikan penahan tungkai itu ke Meharry agar dapat diberikan kepada anak lain yang membutuhkan. Segera serelah itu kebetulan ibunya memandang ke luar jendela melihat anak-anaknya menembakkan bola basket ke sebuah keranjang buah usang sebagai gawang. Di sana, Wilma berlari-larian dan melompat dengan kaki telanjang bersama saudara-saudarinya; sementara sepatu ortopediknya tergeletak di tanah. Bertahun-tahun ia memperhatikan saudara-saudarinya memainkan pemainan yang kelak sangat disukainya, dan bermimpi untuk ikut bermain bersama mereka. Akhirnya ia sehat, dan dapat bermain seperti anak-anak lain. Selama tahun-tahun panjang pemulihannya, ketika hanya sedikit orang di luar keluarganya percaya bahwa hari keberhasilannya akan pernah tiba, Wilma telah berkembang menjadi seorang gadis belia dengan cadangan kekuatan luar biasa dan telah belajar untuk mengejar cita-cita yang di luar jangkauan kebanyakan orang dengan keteguhan dan konsentrasi sangat kuat. 

la bukan hanya seorang anak normal dan sehat. la istimewa, dan ia tahu itu. Sekarang, setelah mengatasi hal mustahil dan belajar berjalan lagi, ia memutuskan memusatkan kekuatan untuk menjadi seorang atlet. la berniat main basket dengan baik, dan bukan hanya baik, tetapi lebih baik daripada anak-anak yang ia perhatikan ketika masih mengenakan penahan tungkai. Lebih baik daripada pemain terbaik dari tim sekolahnya. Ia akan bermain dengan kecepatan, kelenturan, keterampilan, dan keteguhan yang lebih baik daripada semua gadis lain di Clarksville. 

Ketika kelas satu SMP, ia merengek kepada pelatihnya, Clinton Gray, untuk diperbolehkan bergabung dengan tim perempuan di Sekolah Burt High yang khusus untuk kulit hitam. Kemudian ia minta diperbolehkan bermain. Dalam dua musim pertandingan pertama ia duduk di kursi cadangan dan jarang diberi kesempatan brmain. Pelatih hanya membolehkannya main di menit-menit terakhir pertandingan ketika timnya sudah menang jauh. Mungkin ia pikir gadis yang pernah lumpuh di sebagian besar hidupnya ini tidak akan memiliki daya tahan dan kecepatan untuk mengimbangi pemain lain. Tetapi ia telah melihatnya berlatih, memperhatikan bagaimana ia bekerja lebih keras daripada anak-anak lainnya, betapa ia berfokus lebih intens pada latihannya, bahwa ia terus membawa dan menembakkan bola ketika rekan-rekan satu timnya kelelahan. Pelatihnya menyebutnya Skeeter karena ia "kecil, cepat, dan selalu menghalangi."

Pada musim ketiga, setelah kembali memohon kepada pelatih Gray untuk diperbolehkan main, dia memulai pertandingan melawan sebuah TIM berbakat. Untuk pertama kalinya penonton melihat kecepatan dan keatletikan Wilma Rudolph yang menakjubkan. Ia adalah pusaran angina yang meluncur, melempar, menembak, dan rekan-rakan TIMnya yang terkejut menambah kecepatan bermain mereka untuk mengimbanginya. Malam itu mereka menaklukkan lawan dan mereka akan menaklukkan satu persatu TIM lain di minggu-minggu berikutnya. Sejak pertandingan itu Wilma menjadi bintang pemain di tim basket putri terbaik di Tennessee. Dua kali ia bermain untuk tim negara bagiannya. Ia pemah menciptakan empat puluh sembilan angka pada sebuah pertandingan tunggal. Dalam tahun SMA-nya ia membawa tim SMA Burt ke final negara bagian, setelah menciptakan dua puluh enam angka melawan pesaing-pesaing terkuat di semifinal. Tim yang mereka hadapi di final tidak seberbakat tim-tim yang telah mereka kalahkan sebelumnya. 

Wilma dan rekan-rekannya keliru menduga bahwa mereka akan menang. Mereka kehilangan fokus, dan perhatian mereka teralihkan ke saat selesai pertandingan, ketika mereka akan merayakan kemenangan kejuaraan negara bagian. Mereka kalah, dan Wilma hancur. Tetapi ia telah mempelajari sebuah pelajaran berharga. Ada empat syarat agar unggul dalam olahraga, atau untuk apa pun yaitu: keterampilan, konsentrasi, kemauan berjuang, dan cinta. 

Ia memiliki keterampilan. Ia mencintai basket. Dan sudah lama membuktikan bahwa ia bisa berkonsentrasi pada tujuannya, dan berjuang melewati tantangan hidup terburuk yang bisa dihadirkan oleh hidup. Tetapi pada pertandingan itu ia telah lupa: ia harus berjuang untuk unggul, dan membiarkan kepercayaan diri serta kurangnya penghargaan pada lawan mengalihkan pikirannya. Ia tidak akan pemah melakukan kesalahan serupa itu lagi. Meskipun kalah, wasit pada pertandingan itu telah melihat sesuatu yang mengesankan pada bintang pemain mereka. Ed Temple melatih pelari putri dan tim atletik di Universitas Negeri Tennessee. The Tiger bells, julukan mereka, memiliki reputasi yang sedang tumbuh, karena mereka sedang menjadi salah satu tim pelari dan atletik paling menonjol dinegaranya.

la mengundang Wilma ke perkemahan musim panas, dan ia menerima dengan penuh semangat. Sebelum musim panas berakhir, ia telah membuktikan diri sebagai pelari cepat yang andal."Entah mengapa saya lari begitu cepat," katanya kepada Temple, "Saya hanya berlari." la berkata bahwa itu membuatnya merasa menjadi seekor kupu-kupu di tengah angin. Ketika sekolah dimulai kembali dimusim gugur itu, setiap siang Wilma meninggalkan sekolah untuk berlatih bersama Tiger bells. Ketika masih berusia enam belas tahun, ia memasuki TIM pelari putri Amerika Serikat untuk Olimpiade 1956, yang diselenggarakan di Melbourne, Australia. la nyaris mencapai tinggi tubuh maksimalnya, tetapi masih kurus, sangat kurus. Dengan berat hanya 44,5 kilogram, ia tampak sangat kurus, tampak kurang gizi, seakan-akan angin dapat menerbangkannya. la gagal pada pertandingan kualifikasi untuk 100 dan 200 meter. Tetapi berhasil untuk lari estafet 400 meter. la tidak berposisi sebagai pelari kunci, tetapi ia dan rekan-rekan timnya cukup berhasil untuk membawa pulang medali perunggu. 

Baca Juga Kejujuran Thomas More

Tentu saja Wilma sangat senang akan keberhasilannya, tetapi tahu bahwa ia mampu lebih berhasil daripada di tempat ketiga, bahkan jika itu adalah tempat ketiga terbaik di dunia. la tahu jika berjuang cukup keras dan mengerahkan kekuatan konsentrasi pada cita-citanya untuk menjadi perempuan tercepat di dunia, ia dapat menjadi seperti itu. Hanya orang yang belum mengenalnya akan meragukan itu. Empat tahun kemudian, pada usia dua puluh tahun dengan berat 69 kilogram, ia berangkat bersama rekan-rekan satu tim ke Roma. Reputasinya sebagai pelari cepat sedang tumbuh, tetapi hanya sedikit penggemar olahraga yang yakin ia dapat memenangi medali pada pertandingan perorangan. Jackie Robinson telah meramalkan bahwa suatu hari Wilma akan menciptakan rekor· dunia, tetapi sebagian besar orang berpikir bahwa hari itu masih jauh di masa depan. Bagaimanapun ia baru berusia dua puluh tahun, dan tidak bisa diharapkan untuk sudah mencapai puncak penampilannya. Negara Bagian Tennessee memiliki TIM pelari terbaik dan semua pelari dari tim estafet adalah anggota TheTiger bells. Mereka diharapkan berhasil dengan baik dan Wilma dapat memenangi medali lain dalam kompetisi itu. Tetapi bahkan pada saat itupun, Lucinda Williams rekan timnya dianggap pelari tercepat. Dalam pertandingan perorangan, 100 dan 200 meter, yang dibicarakan semua orang ialah pelari Jerman Barat, Jutta Heine, yang tidak pemah terkalahkan. la, dan bukan Wilma, dipuja sebagai pelari tercepat di dunia. Pada pertandingan-pertandingan awal, Amerika Serikat tidak terlalu berhasil. Pelari tercepat di dunia, Ray Norton, diharapkan dengan mudah memenangi medali emas pada lari 100 meter. Tetapi ia bahkan gagal mendapatkan perunggu. Begitu pula tidak ada pelari The Tiger bells yang memenangi medali sebelum Wilma turun bertanding. Satu-satunya orang Amerika Serikat yang membuat berita di Roma ialah seorang petinju muda dari Louisville, Kentucky, dan ia membuat berita besar. Cassius Clay yang berusia sembilan belas tahun memukul jatuh satu persatu lawannya dalam perjalanan menuju medali emas, dan akhimya menjadi orang paling terkenal di dunia, Muhammad Ali. 

Kemalangan lain menimpa Amerika Serikat pada hari sebelum pertandingan pertama Wilma. Selama latihan lari untuk 100 meter, Wilma terperosok ke dalam lubang dan pergelangan kakinya tetkilir. Seperti telah ia pelajari dalam hidup dan kelak dia ingat, "kemenangan tak akan didapatkan tanpa perjuangan." Pergelangan kakinya membengkak dan berubah warna. Ia membalut, mencoba kekuatannya beberapa kali, dan bersiap lari. Untuk seorang gadis yang nyaris tidak akan bisa berjalan, pergelangan kaki terkilir itu ternyata bukan merupakan gangguan berarti. 

Hal pertama yang dapat dilihat ketika Wilma lari ialah caranya "meledak" dari tumpuan awal, memompa lengan dengan sangat keras untuk membangun kecepatan. Tetapi start cepat dan energi besar bukanlah hal paling menarik dari larinya. Orang yang pernah melihat ia lari selalu ingat langkahnya yang panjang dan anggun setelah ledakan kecepatan awalnya. la tampak anggun dan rileks, seolah-olah menyembunyikan energi sangat besar yang sedang ia keluarkan. la telah tumbuh menjadi sangat tinggi, nyaris dua meter. Adalah tungkai kakinya, yang panjang, ramping, dan kukuh, serta pembawaan aristokratisnya yang mengingatkan para penonton di Stadion Olimpiade Roma pada seekor kijang, kijang yang sangat anggun dan cepat. Ia murah senyum dan telah menjadi perempuan muda cantik; puja-puji sebagai atlet terasa masih belurn cukup untuk dirinya. Ketika para pelari melakukan peregangan dan mondar-mandir di lapangan pada menit-menit akhir sebelum lomba 100 meter, Ed Temple khawatir ketika ia tidak melihat Wilma di antara mereka. Ia meminta seorang rekan tim ke ruang ganti untuk mencarinya. Ia menemukan Wilma berbaring di meja pelatih. Ia ternyata tertidur ketika dipijat. 

la telah melakukan segalanya untuk menyiapkan diri menghadapi pertandingan terbesar dalam hidupnya sampai saat itu. Dan seperti biasanya, ia tidak cemas sebelum pertandingan besar. Sepertinya habis sudah hal yang bisa membuatnya cemas. Dia senang tidur sebentar manakala sempat. La tenang, percaya diri, dan teguh; ketika rekan setim membangunkan dirinya, ia sudah siap. Saat tembakan berbunyi, ia "meledak". Dalam kurang dari satu detik ia telah didahului Jutta Heine juara ketiga dan Dorothy Hyman dari lnggris peraih medali perak. 

la tidak pemah melihat ke belakang. Ketika melintasi garis akhir sebelas detik kemudian, ia telah menciptakan rekor dunia. Sayang, karena angin di punggungnya bertiup enam mil per jam satu setengah mil lebih besar daripada batas yang diperbolehkan rekor ini tidak diakui. Tidak ada orang yang pernah melihat seorang perempuan berlari dengan begitu cepat dan anggun. Dalam pertandingan kualifikasi untuk 200 meter keesokan harinya ia menciptakan rekor lain, 23.2 detik. la berjuang melawan angin untuk menyelesaikan garis akhir dalam dua puluh empat detik, jauh di depan pesaing terdekatnya. Sekali lagi penonton takjub oleh kecepatan, keanggunan, dan kecantikannya, juga oleh langkahnya yang panjang dan berayun, membuat kecepatannya seperti tidak menggunakan tenaga besar. Pada hari pertandingan estafet 400 meter, stadion penuh melebihi kapasitas. Orang-orang mulanya menggumam, kemudian berteriak, "Wilma, Wilma, Wilma," ketika para pelari menempati posisinya. Tim Amerika Serikat melakukan awal yang sempuma, berjuang untuk memimpin.

Baca Juga Kejujuran Thomas More

Pelari The Tigerbells kedua mengambil pimpinan, dan Lucinda Williams pelari ketiga, mempertahankannya ketika Wilma lari untuk mengambil tongkat darinya dan menyelesaikan pertandingan. Karena sangat ingin menambah kecepatan saat selanjutnya, ia kurang konsentrasi pada tugas yang ada di hadapannya pada saat itu, yaitu meraih tongkat. Tongkat itu hampir jatuh. Jika ia menjatuhkannya, Amerika Serikat akan didiskualifikasi. Meski berhasil memegang, ia nyaris menjatuhkannya; sementara itu duapelari lain telah mendahuluinya. Salah satunya adalah Jutta Heine. Penonton menarik napas serentak ketika ia nyaris menjatuhkan tongkat dan mengeluh ketika Heine melewati Kijang mereka. Kemudian mereka melongo, takjub tiada percaya ketika Wilma memompa lengannya seperti piston dan "terbang" dengan kecepatan membutakan, yang membuat penggemarnya kelak bergurau, "Kamu tidak akan melihatnya jika berkedip." Dalam tujuh puluh meter, ia telah mengambil alih pimpinan dan beberapa detik kemudian melintasi garis akhir sedikit di depan Jutta Heine. 

Sepertinya butuh agak lama sampai penonton cukup tenang sehingga upacara penyerahan medali dapat dimulai. Lagu nasional Amerika Serikat terdengar ketika Wilma dan rekan-rekan timnya menundukkan kepala untuk menerima medali emas mereka. Ia merupakan perempuan Amerika Serikat pertama yang memenangi tiga medali emas. Dan sulit disangkal, ia adalah perempuan tercepat di muka bumi. Gadis ini telah mengalahkan polio, kemiskinan, dan rasisme, untuk menjadi atlet, perempuan terbesar di zamannya dan salah seorang yang paling dicintai di dunia. Ia tidak pernah bertanding lagi di Olimpiade lain. Tentu saja ia akan berhasil, tetapi ia sudah melakukan yang terbaik. 

la telah mencapai keunggulan, dan tahu bahwa keunggulan ini mustahil dilewati lebih jauh. la mengalihkan hidupnya ke tugas bermakna lain. Walikota Clarksville, yang berkampanye sebagai pemihak kebijakan pemisahan, ingin menyelenggarakan parade untuk menyambut kedatangan Wilma. Anehnya, sebagaimana kebiasaan para penganut rasisme, acara ini hanya terbatas untuk orang kulit putih. Wilma menolak berpartisipasi sampai walikota menyerah dan membolehkan semua orang di Clarksville menghadiri parade. la juga bersikeras bahwa orang kulit hitam harus diperbolehkan menghadiri perjamuan makan penghargaan di malam harinya. Kedua peristiwa ini merupakan peristiwa publik pertama dalam sejarah kota itu, yakni tidak diberlakukan pemisahan warna kulit. 

Kadang-kadang Wilma tampak lebih bangga akan keberhasilan ini daripada medali emasnya. Beberapa hari kemudian, mungkin ia bahkan menikmatinya sebanyak ia menikmati parade lain. Ia berada di atas mobil Cadillac merah muda atap terbuka melewati area kulit hitam di Louisville, bersama CassiusClay (Muhammad Ali) yang kasar dan tidak bisa ditekan. Petinju muda itu berulang-ulang berteriak kepada kerumunan orang, "Saya yang terbesar!" sebelum akhirnya ia menunjuk kepada temannya yang cantik, lebih rendah hati, dan tersenyum lebar, dan menyatakan, "Ini Wilma Rudolph. Dia yang terbesar!"

Disarikan dari John McCain bersama Mark salter "Character is Destiny"
Share this article :
 
Comments
0 Comments
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Muhamad Hamdi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger